Tuesday, May 23, 2017

pengaruh perkembangan bahasa arab di indonesia

                                                           BAB I
PENDAHULUAN
      A.    Latar Belakang
Bahasa adalah bunyi yang bersifat arbitrar, digunakan oleh manusia sebagai alat komunikasi antar sesama dan memiliki makna. Bahasa merupakan hasil dari pembiasaan (language is habit) tanpa pembiasaan tidak akan ada bahasa, bahasa memiliki berbagai fungsi dan karakteristik, salah satunya adalah kreatif dan mengikuti zaman dengan kata lain bahasa merupakan suatu yang dinamis.
Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa Intenasional yang digunakan  oleh ummat manusia untuk berkomunikasi antar satu sama lain, di dalam buku The arabic language dinyatakan bahwa bahasa Arab telah digunakan oleh lebih dari 150 juta orang sebagai bahasa ibu atau bahasa sehari-hari mereka, dan tidak ada bukti dokumentasi yang  menyatakan bahwa bahasa Arab adalah bahasa tertua apabila dibanding dengan bahasa lainnya, namun juga tidak dapat dipastikan bahwa bahasa Arab jauh lebih muda dibanding bahasa lainnya.
Bahasa Arab bukanlah “bahasa Asing” yang  benar-benar asing bagi ummat Islam pada khususnya  karena pada hakikatnya bahasa arab adalah bahasa yang menjadi muatan dari kebutuhan Ummat Islam  hal ini sesuai dengan salah satu fungsi bahasa yaitu  yaitu alat pada Spiritualitas.
Berbicara mengenai perkembangan bahasa Arab di Timur tengah maka tidak bisa lepas dari perbincangan tentang perkembangan Islam sebagai agama mayoritas masyarakat Arab, oleh karena itu  membahas perkembangan bahasa Arab sejalan dengan periode sebelum dan setelah datangnya Islam sampai pada saat ini.
Pengetahuan tentang perkembangan studi bahasa Arab di timur tengah diharapkan dapat menjadi gambaran bahwasanya bahasa arab adalah bahasa yang terus berkembang di seluruh penjuru dunia.
Fakta telah menunjukkan bahasa Arab sudah mulai dikenal sejak masuknya Islam ke wilayah tanah air nusantara. Bagi bangsa Indonesia khususnya umat islam bahasa Arab bukanlah bahasa asing karena muatannya menyatu dengan kebutuhan umat islam, saynagnya sikap dan pandangan sebagian kaum muslim Indonesia masih beranggapan, bahasa Arab hanyalah bahasa agama, sehingga perkembangan bahasa Arab terbatas di lingkungan kaum muslimin yang ingin memperdalam ilmu pengetahuan agama.
Hanya lingkungan kecil yang menyadari betapa bahasa Arab-selain sebagai bahasa agama- merupakan bahasa Ilmu pengetahuan dan sain yang berhasil melahirkan karya-karya besar ulama di berbagai bidang ilmu pengetahuan, filsafat, sejarah, dan sastra.Karena itu tidaklah berlebihan bila dikatakan, bahasa Arab merupakan peletak dasar bagi pertumbuhan ilmu pengetahuan modern yang berkembang cepat dewasa ini.

B. Rumusan Masalah
1.  Bagaimana pengaruh bahasa Arab di Indonesia?
2. Apa metodologi pembelajaran bahasa Arab di Indonesia?
3. Bagaimana permasalahan pembelajaran bahasa Arab di Indonesia?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk memahami bagaimana pengaruh bahasa Arab di Indonesia.
2. Untuk mengetahui metodologi dari penggunaan bahasa Arab disekolah diIndonesia
3. Untuk mengetahui permasalahan pembelajaran bahasa Arab di Indonesia















                                                                     BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengaruh Perkembangan Bahasa arab di Indonesia
Sejarah perkembangan bahasa Arab di Indonesia dimulai sejak masyarakat Indonesia mulai memeluk Islam. Dalam hal ini bahasa Arab dipelajari semata-mata sebagai alat untuk mempelajari dan memperdalam pengetahuan Islam, baik disurau, masjid, pondok pesantren, maupun madrasah-madrasah.
Sejak zaman penjajahan Belanda, banyak sekali mahasiswa Indonesia yang melanjutkan dibeberapa perguruan tinggi di Timur Tengah. Mereka pada umumnya, mempelajari bahasa Arab bukan semata-mata sebagai alat, melainkan sebagai tujuan. Karena itu, setelah studi mereka berhasil, banyak diantara mereka yang tergolong ahli bahasa Arab dan mampu menggunakan bahasa Arab  secara aktif  karena menguasai empat segi kemahiran bahasa : menyimak (mendengar), berbicara, dan menulis.
Setelah mereka pulang ke tanah air, mereka mengusahakan pembaharuan metode untuk pengajaran bahasa Arab. Dengan metode tersebut, mereka berhasil menumbuhkan pengertian bahwa bahasa Arab (Fusha) perlu- untuk tidak menyebut harus- dipelajari juga sebagai tujuan, yakni untuk membentuk ahli-ahli bahasa Arab dan menghasilkan alumni yang mampu menggunakan bahasa Arab secara aktif sebagai alt komunikasi untuk berbagai keperluan.
Setelah pengertian dan kesadaran tersebut meluas, para ahli bahasa arab di Indonesia terdorong untuk segera mengajarkan bahasa Arab untuk  melalui metode yang waktu itu dianggap  terbaru dan paling sesuai  agar bahasa Arab dipelajari juga sebagai tujuan (baca: sebagai kebutuhan), selain sebagai alat. Pengertian bahasa Arab dengan metode dan untuk tujuan tersebut sudah mulai dilaksanakan dibeberapa madrasah, baik di Sumatra- seperti madrasah at Thawalib-dan di Jawa- seperti pondok Darussalam Gontor (Ponorogo)
Pengajaran bahasa Arab (Fusha) yang dipelajari di Indonesia dimaksudkan untuk mencapai dua tujuan.
Pertama, Sebagai alat untuk mempelajari dan memperdalam pengetahuan Islam seperti di madrasah-madrasah (negeri atau swasta), pondok pesantren, dan Perguruan Tinggi Agama Islam (negeri atau swasta).
Kedua, sebagai tujuan, yaitu membentuk tenaga-tenaga ahli bahasa arab atau untuk menghasilakan alumni yang mampu menggunakan bahasa Arab secara aktif sebagai alat komunikasi untuk berbagai keperluan.

B.Metodologi pembelajaran bahasa Arab di Indonesia
Secara umum, penerapan metode pembelajaran bahasa Arab yang dikembangkan dipesantren- pesantren  dan lembaga pendidikan, termasuk perguruan tinggi Islam masih menitikberatkan pada metode gramatika – terjamah. Ini terbukti dari ciri-ciri khusus yang telah dikembangkan, sebagai berikut.
Pertama, pemberian keterangan kaidah-kaidah tata bahasa oleh para pengajar dan penghafalan kaidah-kaidah tersebut oleh para pelajar
Kedua, penghafalan kata-kata tertentu yang kemudian dirangkaikan menurut kaidah-kaidah tata bahasa yang berlaku.
Ketiga, kegiatan kegiatan menerjemahkan kata demi kata, dan kalimat demi kalimat dari bahasa Arab ke bahasa pelajar dan sangat kurang sebaliknya yakni dari bahasa pelajar ke dalam bahasa Arab.
Keempat, latihan untuk kemahiran menggunakan bahasa secara lisan sangat kurang, kalaupun diberikan, frekuensinya hanyalah sesekali dengan cara-cara yang membosankan karena tidak ada variasi.
Kelima, kurang menggunakan alat peraga atau alat bantu yang dapat didengar-dilihat (audio-visual aids). Gambar yang digunakan bersifat ilustrasi dari pada untuk pengajaran.
Keadaan ini menunjukkan, lulusan lembaga-lembaga pendidikan agama itu masih produk pengajaran bahasa Arab  yang didasarkan atas informating approach dan metode gramatika tarjamah. Padahal approach dan metode terhadap kurikulum bersifat disintegrasi, yakni tidak mempunyai hubungan yang erat antara pelajaran bahasa Arab dengan mata ajar lainnya. Mata ajar bahasa Arab  dipecah –pecah secara tajam dalam bagian yang terpisah-pisah, sedangkan kemahiran bahasa tidak diberikan. Dengan perkataan lain, pelajaran bahasa Arab disampaikan lebih bersifat teoritis karena lebih mengutamakan  pembentukan ahli ilmu bahasa, bukan pembentukan manusia yang mampu berbahasa.

C. Permasalahan Pembelajaran Bahasa Arab di Indonesia.
                 Permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran bahasa arab di Indonesia seperti bahasa asing lainnya, meliputi dua hal; permasalahan kebahasaan dan nonkebahasaan. Permasalahan non kebahasaan ada yang bersifat sosiologis, psikologis, metodologis dan sebagainya. Adapun permasalahan kebahasaan berkaitan dengan unsur-unsur bahasa: tata bunyi, kosa kata tata kalimat, makna dan tulisan.[1]
        
1. Permasalahan kebahasaan
         Permasalahan kebahasaan merupakan kesulitan yang dihadapi siswa ketika mempelajari unsure-unsur bahasa tujuan. Kesulitan itu timbul karena apa yang ada pada bahasa tujuan sangat atau agak berbeda dengan apa yang ada pada bahasa pertamanya, baik pada dataran bunyi, kata, struktur, arti, dan tulisan. Berdasarkan kenyataan itulah ada suatu premis yang menyatakan bahwa mudah sulitnya belajar bahasa asing bergantung pada perbandingan sistemik antara bahasa siswa dengan bahasa tujuan.Namun ada pula yang menganggap bahasa ibu juga dapat mendukung pembelajarab bahasa asing.

2.Permasalahab nonkebahasaan.
Di antara persoalan nonkebahasaan yang sangat penting dan perlu diungkapkan adalah yang bersifat politis, psikologi, dan metodologis. Kesemuanya akan dibahas berikut ini
1) Posisi bahasa Arab.
Dalam dokumen Politik Bahasa Nasional (PBN) tahun 1975 (masa orde baru), bahasa arab sama sekali tidak disebut. Dalam rumusan mengenai bahasa asing, tertulis “Di dalam hubungannya dengan bahasa Indonesia, seperti bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, dan bahasa lainnya kecuali bahasa Indoonesia dan bahasa daerah serta bahasa melayu, berkedudukan sebagai bahasa Asing. Kedudukan ini didasrakan atas kenyataan bahwa bahasa asing tertentu itu diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan pada tingkat tertentu…” Kedudukan Bahasa Arab seebagai bahasa asing dapat disimpulkan secara implicit dari frasa “dan bahasa lainnya.” Ditinjau dari fungsinya, bahasa asing adalah sebagai:
a.       Alat penghubung antar bangsa.
       b.  Alat pembantu pengembangan bahaasa Indonesia, dan
       c.  Alat pemanfaatan iptek untuk pembangunan Nasional.
Fungsi bahasa arab seperti telah dipaparkan sebelumnya sudah cukup menjadi alasan untuk tidak memarjinalkannya dalam politik bahasa nasional. Kenyatssn seperti itu tampaknya telah mulai disadari sejak bergulirnya mas reformasi. Karena itu, di antara rumusan hasil seminar “Politik Bahasa Nasional” pada tahun 1999 adalah bahwa Bahasa Arab telah didudukkan sebagai bahas asing kedua setelah bahasa Inggris. Di samping berkedudukan sebagai bahasa asing, juga dinyatakan sebagai bahasa agama dan budaya Islam.
2) Rendahnya motivasi dan minat kepada Bahasa Arab.
                    Rendahnya minat dan motivasi belajar bahasa Arab bisa disebabkan oleh beberapa factor. Antara lain rendahnya penghargaan kepada bahasa arab , disebabkan oleh banyak hal, baik yang objektif maupun yang subjektif, misalnya:
     a. Pengaruh bawah sadar sebagian orang Indonesia (termasuk yang muslim) yang merasa rendah diri dengan segala sesuatu yang berbau Islam dan Arab serta mengagungkan segala sesuatu yang berasal dari Barat.
     b. Sikap Islamophobia, yaitu perasaan cemas dan tidak suka terhadap kemajuan Islam dan umat Islam, termasuk bahasa Arab karena bahasa Arab dipandang identik dengan Islam.
     c. Terbatasnya pengetahuan dan wawasan karena kurangnya informasi yang disampaikan kepada khalayak mengenai kedudukan dan fungsi bahasa Arab; dan
     d. Kemanfaatan bahasa Arab dari tinjauan praktis pragmatis memang rendah dibandingkan dengan bahasa asing lain terutama bahasa Inggris.
Kalau memang demikian adanya, antusiasme belajar bahasa arab sebagai alat perlu kiranya untuk ditingkatkan. Hal ini bisa dicapai melalui dua cara: langsung dan tidak langsung.[2]
           Cara langsung adalah dengan memanfaatkan jasa para Ulama’ untuk menjelaskan arti penting bahasa Arab dalam upaya mempelajari agama Islam, bekerja di negara Arab dan sebagainya
         Cara tidak langsung. Artinya, ikut serta bersama dai dan ulama menyemarakkan dakwah, mencarikan peluang kerja di Negara Arab, atau memanfaatkan pejabat dan pengusaha untuk menarik investasi dari Negara-negara Arab. Semakin semarak bahasa Arab dipelajari sebagai alat, maka semakin semarak pula bahasa Arab dipelajari sebagai tujuan dan sebaliknya.

           3)   Permasalahan metodologis.
      a.Rendahnya keahlian guru bahasa Arab.
Keahlian (professionalism) adalah kualitas dan tindak-tanduk yang merupakan ciri sesuatu profesi atau orang yang berkeahlian.Adapun profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan) tertentu.Guru yang berkeahlian adalah guru yang memiliki kualifikasi pendidikan keguruan yang sesuai dengan bidangnya dan menunjukkan kualitas dan tindak-tanduk yang sesuai dengan tuntunan keahliannya tersebut. Guru bahasa arab yang professional harus memiliki kualifikasi sebagai berikut.[3]
      1. Berlatar belakang pendidikan keguruan bahasa Arab.
      2. Memiliki pengetahuan yang memadai tentang bahasa Arab dan mahir berbahasa Arab.
      3.Memiliki pengetahuan tentangproses belajar-mengajar bahasa Arab dan mampu menerapkannya dalam pembelajaran.
      4. Memiliki semangat dan kesadaran untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan profesinya sesuai dengan perkembangan zaman.
Berdasarkan penelitian terbatas dan pengamatan yang dilakukan pada tahun 1991 secara langsung dilapangan, ditemukanbanyak guru bahasa Arab di jenjang pendidikan dasar dan menengah yang tidak memenuhi persyaratan profesi. Data yangditemukan menunjukkan  bahwa para guru bahasa Arab yang berpendidikan SLTA atau pesantren hanya berkisar sekitar 66,6% yang berpendidikan tinggi hanya 22,2% yang berkualifikasi sarjana pendidikan bahasa Arab. Keadaan serupa mungkin terjadi di daerah lain (dan besar kemungkinan di lingkungan madrasah keadaannya lebih parah lagi).
            b.Kurang tepatnya pendekatan.
Kalau kita telusuri perkembangan pembelajaran bahasa Arab terutama yang berkaitan dengan metode dan pendekatan yang digunakan, mulai dari pengaruh barat di dalam dunia Islam umumnya dan dunia Arab khususnya , haruslah diakui bahwa tidak mudah memperoleh refrensi mengenai perkembangan metode pembelajaran bahasa Arab yang bersifat spesifik (khas bahasa Arab).
      c.Ketidaktegasan dalam sumber seleksi materi.
Bahasa Arab fusha dalam perkembangannya mengalami pergolakan-pergolakan, terutama sekali dari pengumulannya dengan bahasa Arab ‘ammiyah sampai munculnya bahasa Arab tengah yang kemudian dinamakan bahasa Arab modern.Kemunculannya ini dapat meredam pergolakan kebahasaan di kalangan bahasa Arab sendiri. Tetapi pergolakan tetap berlaku di kalangan muslimin dengan motif belajar bahasa Arab yang telah disebutkan di depan. Yang mengharuskan mereka menguasai dua bahasa Arab, klasik dan modern.
tujuan pengajaran bahasa Arab memiliki dua arahbahasa Arab sebagai tujuan (memahami kemahiran berbahasa) dan bahasa Arab sebagai alat untuk menguasai pengetahuan lain dengan menggunakan wahana bahasa Arab. Di samping itu, jenis bahasa yang dipelajari meliputi dua bahasa: klasik dan modern.
Penggabungan  ini di satu sisi memiliki kelebihan, karena dapat meberdayakan kompetensi peserta didik secara komprehensif. Namun di sisi lain, melahirkan ketidakmenentuan, karena keterbatasan sel-sel otak peserta didik untuk mengakomodasi keduanya secara bersamaan. Tuntutan materi yang serba meliputi dan metodologi yang tentu saja bervariasi untuk sebagian kalangan dipandang melahirkan kegamangan antara keinginan untuk mempertahankan yang lama dan menggunakan yang baru.[4]
            d.Ketidakpaduan kurikulum.
Perlu diingat bahwasannya bahasa arab sebenarnya telah diajarkan oleh lembaga pendidikan Islam, pada umumnya sejak usia taman kanak-kanak walaupun masih sederhana. Tujuan utamanya adalah untuk membaca Al-Qur’an.Ada pula yang sudah mengenalkan kosakata Arab.
      Pembelajaran bahasa Arab secara resmi dimulai sejak anak berada di madrasah tsanawiyah atau sederajat di lembaga pendidikan Islam. Bahasa arab diposisikan sebagai mata pelajaran wajib. Di sekolah menengah atas di lembaga pendidikan umum, pelajaran bahasa Arab masuk dalam bahasa pilihan.Sekali lagi, bahasa Arab diajarkan sejak SLTP sampai perguruan tinggi.[5]

D.Dampak Pemerolehan Bahasa Ibu (B1)
Keanekaragaman budaya dan bahasa daerah mempunyai peranan dan pengaruh terhadap bahasa yang akan diperoleh anak pada tahapan berikutnya.Tuturan bahasa pertama (B1) yang diperoleh dalam keluarga dan lingkungannya sangat mendukung terhadap proses pembelajaran bahasa kedua (B2) yaitu bahasa Indonesia.
Adapun perkembangan sosial itu sendiri tidak terlepas dari faktor orang-orang yang kehadirannya ada di lingkungan diri anak. Orang-orang yang dimaksud adalah teman, saudara dan yang paling dekat adalah kedua orang tua yaitu ayah serta ibunya. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan oleh kedua orang tua sebagai orang yang pertama kali dekat dengan diri anak ketika menerima bahasa pertama sangat berdampak terhadap anak dalam tahapan pemerolehan bahasa kedua (B2).
Pemerolehan bahasa pertama anak adalah bahasa daerah karena bahasa itulah yang diperolehnya pertama kali. Perolehan bahasa pertama terjadi apabila seorang anak yang semula tanpa bahasa kini ia memperoleh bahasa , Bahasa daerah merupakan bahasa pertama yang dikenal anak sebagai bahasa pengantar dalam keluarga atau sering disebut sebagai bahasa ibu (B1). Bahasa ibu yang digunakan setiap saat sering kali terbawa ke situasi formal atau resmi yang seharusnya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Perolehan bahasa kedua (B2 (bahasa Indonesia)) merupakan sebuah kebutuhan bagi anak ketika sedang mengikuti pendidikan di lembaga formal. Pada lembaga formal guru mempunyai pengaruh yang sangat siknifikan sebagai pendidik sekaligus pengajar di sekolah. Guru dengan konsep dapat digugus dan ditiru oleh anak akan menjadi figur sosok seseorang pengganti orangtua, oleh karena itu sosok seorang guru dalam kehadirannya di sekolah sebagai rumah kedua bagi anakmempunyai peranan penting dalam memberikan tuturan bahasa sebagai contoh bahasa kedua (B2). Penyesuaian antara bahasa ibu (B1) dengan bahasa kedua (B2) (bahasa Indonesia) yang dituturkan oleh guru membutuhkan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, pada kelas rendah (kelas 1—3 SD) masih menggunakan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar pendidikan.
Pada Kelas lanjutan (4—6 SD dan seterusnya) guru akan menggunakan bahasa Indonesia sebagai penyampai ilmu pengetahuan dan teknologi yang baru oleh anak. Apabila pada kelas lanjutan guru masih menggunakan bahasa ibu/ bahasa daerah sebagai bahasa pengantar pendidikan, makadampak negatif yang akan diperoleh anak.





                                                     BAB III
PENUTUP

      A.Kesimpulan.
Sejarah perkembangan bahasa Arab di Indonesia dimulai sejak masyarakat Indonesia mulai memeluk Islam. Dalam hal ini bahasa Arab dipelajari semata-mata sebagai alat untuk mempelajari dan memperdalam pengetahuan Islam. Selain itu banyak sekali mahasiswa Indonesia yang melanjutkan dibeberapa perguruan tinggi di Timur Tengah, mereka mempelajari bahasa arab sebagai tujuan.
Metode pembelajaran bahasa Arabdi Indonesia yang dikembangkan dipesantren- pesantren  dan lembaga pendidikan, termasuk perguruan tinggi Islam secara umum masih menitikberatkan pada metode gramatika – terjamah.
Permasalahan pembelajaran bahasa arab di Indonesia seperti bahasa asing lainnya, meliputi dua hal:
      1. Permasalahan kebahasaan
Kesulitan ini timbul karena apa yang ada pada bahasa tujuan sangat berbeda dengan bahasa pertamanya, baik pada bunyi, kata, struktur, arti dan tulisan.
2.Permasalahan non-kebahasaan,meliputi:
        a.Posisi marjinal bahasa Arab.
b.Rendahnya motivasi dan minat kepada Bahasa Arab.
      3.  Permasalahan metodologis, meliputi:
        a.Rendahnya keahlian guru bahasa Arab.
        b.Kurang tepatnya pendekatan.
        c.Ketidaktegasan dalam sumber seleksi materi.
       d.Ketidakpaduan kurikulum.
                    Sedangkan Keanekaragaman budaya dan bahasa daerah mempunyai peranan dan pengaruh terhadap bahasa yang akan diperoleh anak,Tuturan bahasa pertama (B1) yang diperoleh dalam keluarga dan lingkungannya sangat mendukung terhadap proses pembelajaran bahasa kedua (B2) yaitu bahasa Indonesia.

      B. Kritik dan Saran
Mempelajari dan memahami pengetahuan dan ajaran Islam, yang dengannya seseorang akan menjadikannya sebagai way of life, dari sumber aslinya tidak mungkin terjadi kecuali dengan bahasa Arab, meskipun dalam tingkat minimal. Dengan demikian dapat dikatakan, bahasa Arab  sebagai bahasa agama Islam. Sedemikian erat dan tak terpisahkan  hubungan antara Islam dan bahasa Arab, peranan bahasa Arab  sebagai bahasa ilmu pengetahuan menjadi terdesak sehingga kurang dapat perhatian.
Karena itu, peringatanterutama kepada pengajar bahasa Arab “ bangkitkan minat dan gairah belajar untuk mempelajari bahasa arab” hendaknya terus disosialisasikan dan dijelaskan. Penjelasan itu harus memuat sejarah perkembangan dan peranan bahasa Arab terhadap ilmu pengetahuan dunia karena bahsa Arab telah membari sumbangan besar san memegang  peranan sangat penting dalam percaturan ilmu pengetahuan dunia.







DAFTAR PUSTAKA

Nazri Syakur, Revolusi Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Yogyakarta: BiPA, 2010.

Arifin, E. Zaenal dan Farid Hadi,Kesalahan Berbahasa, Jakarta:CV Akademika Pressindo. 1991.

Effendi,S. Panduan Berbahasa Indonesia dengan Baik dan Benar,Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya, 1994
           Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,Kamus Besar Bahasa Indonesia,Jakarta:Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,1995.

Safarina, D. Sopah, dan Indrawati, S,Analisis Kesalahan Berbahasa Ragam Tulis Siswa Madrasah Ibtidaiyah,2006



[1]Nazri Syakur, Revolusi Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Yogyakarta: BiPA, 2010). Hlm. 66-67
[2]Arifin, E. Zaenal dan Farid Hadi,Kesalahan Berbahasa,( Jakarta:CV Akademika Pressindo). 1991.

[3]Effendi,S. Panduan Berbahasa Indonesia dengan Baik dan Benar,(Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya), 1994
[4]Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,Kamus Besar Bahasa Indonesia,( Jakarta:Departemen Pendidikan dan Kebudayaan)1995.

[5]Safarina, D. Sopah, dan Indrawati, S,Analisis Kesalahan Berbahasa Ragam Tulis Siswa Madrasah Ibtidaiyah,2006.

No comments:

Post a Comment

contoh proposal kuantitatif lengkap judul penerapan metode demontrasi melalui media sederhana

PENERAPAN METODE DEMONSTRASI MELALUI MEDIA SEDERHANA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA PADA PESERTA DIDIK KELAS IV MIN BAB I P...